1. Kulit Menjadi Tipis
Salah satu efek samping krim steroid yang paling dikenal adalah penipisan kulit atau skin atrophy. Kulit yang menipis biasanya terlihat lebih mengilap, rapuh, mudah luka, dan lebih sensitif terhadap gesekan. Pada sebagian orang, kulit juga menjadi lebih mudah memar.
Risiko ini lebih tinggi jika steroid digunakan dalam waktu lama, terutama pada area wajah, leher, lipatan kulit, atau kulit anak-anak yang secara alami lebih tipis.
2. Muncul Garis Seperti Stretch Mark
Penggunaan steroid jangka panjang dapat memicu munculnya striae, yaitu garis-garis pada kulit yang mirip stretch mark. Striae lebih sering muncul pada area lipatan, paha, selangkangan, perut, atau ketiak.
Masalahnya, striae akibat steroid sering sulit hilang sepenuhnya. Karena itu, pemakaian krim steroid kuat pada area lipatan harus dilakukan dengan sangat hati-hati dan hanya sesuai arahan dokter.
American Family Physician juga mencatat bahwa efek samping seperti atrophy, striae, telangiectasia, rosacea, dan purpura dapat terjadi, terutama jika steroid digunakan terlalu lama, terlalu kuat, pada area luas, atau pada kulit yang lebih tipis.
3. Pembuluh Darah Halus Tampak Lebih Jelas
Efek samping lain yang dapat muncul adalah telangiectasia, yaitu pembuluh darah kecil yang tampak jelas di permukaan kulit. Biasanya terlihat seperti garis-garis merah halus, terutama pada wajah.
Kondisi ini bisa membuat kulit tampak merah menetap dan lebih sensitif. Pada beberapa pasien, keluhan ini juga dapat menyerupai rosacea sehingga perlu diperiksa langsung oleh dokter kulit untuk memastikan penyebabnya.
4. Jerawat Steroid dan Bruntusan
Pemakaian steroid pada wajah dapat memicu jerawat steroid. Gejalanya bisa berupa bruntusan, bintil merah, jerawat kecil yang muncul merata, atau kulit terasa panas dan tidak nyaman. Keluhan ini dapat muncul di pipi, dahi, sekitar mulut, atau dagu.
Pada beberapa kasus, penggunaan steroid juga dapat memperburuk perioral dermatitis atau steroid rosacea. Journal of the
American Academy of Dermatology menyebutkan bahwa efek samping glukokortikosteroid topikal dapat mencakup atrophy, striae, rosacea, perioral dermatitis, acne, dan purpura.
5. Warna Kulit Berubah
Krim steroid yang digunakan tidak tepat juga dapat menyebabkan perubahan warna kulit. Kulit bisa tampak lebih terang, lebih gelap, atau belang dibanding area sekitarnya. Perubahan ini dapat terjadi karena efek obat, peradangan yang berulang, atau iritasi kulit yang tidak tertangani dengan baik.
Jika perubahan warna disertai gatal, bersisik, nyeri, atau ruam yang menyebar, pemeriksaan dokter diperlukan untuk memastikan apakah ada infeksi jamur, dermatitis, atau kondisi kulit lain.
6. Infeksi Kulit Bisa Tersamarkan atau Makin Parah
Steroid bekerja menekan peradangan. Karena itu, pada beberapa kasus, gejala infeksi kulit bisa tampak mereda sementara, padahal penyebab utamanya belum teratasi. Misalnya pada infeksi jamur, penggunaan steroid tanpa antijamur yang tepat dapat membuat ruam tampak lebih luas, tidak khas, dan sulit diobati.
Inilah alasan mengapa tidak semua ruam boleh langsung dioles krim steroid. Ruam akibat jamur, bakteri, virus, atau kondisi infeksi menular seksual memerlukan diagnosis dan terapi yang berbeda.
7. Risiko Topical Steroid Withdrawal
Penggunaan steroid topikal jangka panjang atau tidak tepat dapat berhubungan dengan topical steroid withdrawal, yaitu reaksi yang muncul setelah steroid dihentikan. Gejalanya bisa berupa kulit merah luas, terasa panas atau terbakar, gatal intens, perih, mengelupas, hingga muncul cairan pada kulit.
Menurut GOV.UK, reaksi topical steroid withdrawal dapat ditandai dengan kemerahan yang menyebar di luar area penggunaan, rasa terbakar atau perih, gatal intens, kulit bersisik atau mengelupas, hingga muncul luka yang basah. Kondisi ini perlu dievaluasi dokter karena gejalanya bisa mirip dengan kekambuhan dermatitis atau penyakit kulit lain.