DVX Jakarta dan Surabaya

Senin - Jumat: 12.00 - 20.00 | Sabtu: 09.00 - 16.00 | Minggu Appointment Only

DVX Medical, Klinik Infeksi Menular IMS dan Penyakit Kelamin Jakarta dan Surabaya

Info Dermatitis Atopik

Share Via

Pelajari lebih lanjut mengenai dermatitis atopik, termasuk ciri-ciri, penyebab, faktor pencetus kekambuhan, serta pilihan perawatan untuk membantu mengontrol keluhan. Temukan informasi medis terpercaya mengenai perawatan kulit pada anak maupun dewasa serta pentingnya pemeriksaan dokter untuk menentukan terapi yang sesuai.

Items Show
Dermatitis Atopik pada Orang Dewasa: Gejala dan Faktor Pemicunya
Senin, 24 Agu 2026

Kulit terasa sangat gatal, kering, atau mengalami ruam yang berulang meski sudah menggunakan produk perawatan kulit? Keluhan tersebut bisa berkaitan dengan berbagai kondisi kulit, salah satunya dermatitis atopik pada orang dewasa. Dermatitis atopik memang sering diasosiasikan dengan bayi dan anak-anak. Namun, kondisi ini juga bisa dialami orang dewasa. American Academy of Dermatology (AAD) menjelaskan bahwa dermatitis atopik umumnya dimulai pada masa kanak-kanak, tetapi kondisi ini juga bisa mulai muncul pada usia berapa pun. Gejalanya bisa membaik pada periode tertentu, kemudian kembali memburuk atau mengalami flare. Karena itu, mengenali gejala dan faktor yang memicu kekambuhan penting untuk membantu mengelola kondisi kulit dengan lebih tepat.

Perawatan Dermatitis Atopik Surabaya: Mengapa Terapi Perlu Disesuaikan dengan Kondisi Kulit?
Senin, 24 Agu 2026

Dermatitis atopik merupakan penyakit kulit inflamasi kronis yang sering muncul berulang. Pada sebagian orang, keluhan mungkin membaik setelah menggunakan pelembap atau terapi tertentu, tetapi kembali muncul beberapa waktu kemudian. Kondisi seperti ini sering membuat pasien bertanya apakah pengobatan sebelumnya tidak bekerja. Padahal, dermatitis atopik pada setiap orang bisa memiliki tingkat keparahan, lokasi, pola kekambuhan, dan respons terhadap terapi yang berbeda. Karena itu, perawatan dermatitis atopik Surabaya sebaiknya tidak hanya berfokus pada mencari obat untuk meredakan ruam, tetapi juga menyesuaikan strategi terapi dengan kondisi kulit masing-masing pasien.

Bebaskan Diri dari Gatal Menahun: Solusi Tuntas Dermatitis Atopik di DVX Medical Jakarta
Senin, 24 Agu 2026

Pernahkah Anda merasa sangat frustrasi karena gatal yang tak kunjung mereda meski sudah bergonta-ganti merek salep dan losion? Jika kulit Anda sering terasa sangat kering, kemerahan, menebal, dan rasa gatalnya memburuk di malam hari, Anda kemungkinan besar sedang berhadapan dengan dermatitis atopik. Kondisi yang di kalangan masyarakat sering disebut sebagai eksim menahun ini bukanlah sekadar kulit kering biasa yang bisa diabaikan. Ini adalah bentuk peradangan kulit kronis yang membuat penderitanya terjebak dalam siklus gatal dan garuk yang sangat menyiksa. Kualitas tidur terganggu, produktivitas menurun, hingga rasa percaya diri yang merosot tajam adalah keluhan yang paling sering kami dengar dari pasien.

Psoriasis vs Dermatitis Atopik: Apa Bedanya?
Rabu, 24 Jun 2026

Psoriasis dan dermatitis atopik sama-sama dapat menyebabkan kulit merah, gatal, dan meradang. Karena gejalanya bisa terlihat mirip, banyak orang mengira keduanya adalah penyakit yang sama atau varian dari kondisi yang sama. Padahal mekanisme yang mendasari, pola kelainan kulit, dan pendekatan pengobatannya berbeda secara signifikan. Artikel ini menjelaskan perbedaan mendasar antara keduanya. Untuk perbandingan dari sisi tampilan kulit dan diagnosis klinis, lihat Psoriasis vs Eksim Biasa: Cara Membedakannya.

Apakah Dermatitis Atopik Diturunkan?
Senin, 08 Jun 2026

Banyak orang tua yang memiliki dermatitis atopik khawatir bahwa anak mereka akan mengalami kondisi yang sama. Sebaliknya, sebagian orang yang baru didiagnosis mulai menyadari bahwa anggota keluarga lain juga memiliki riwayat eksim, asma, atau rhinitis alergi.

Dermatitis Atopik vs Dermatitis Kontak: Apa Bedanya?
Senin, 08 Jun 2026

Kulit merah, gatal, kering, dan bersisik tidak selalu berarti kondisi yang sama.

Kapan JAK Inhibitor Dipertimbangkan untuk Dermatitis Atopik?
Selasa, 09 Jun 2026

Sebagian besar pasien dermatitis atopik tidak pernah memerlukan terapi sistemik oral. Tapi ada titik di mana penyakit berkembang melampaui apa yang bisa dikendalikan dengan krim, salep, atau fototerapi. Di sinilah diskusi tentang JAK inhibitor menjadi relevan.

Freorla (abrocitinib) atau Rinvoq (upadacitinib): Faktor Apa yang Dipertimbangkan Dokter?
Selasa, 09 Jun 2026

Pasien yang sudah mencapai tahap diskusi terapi sistemik sering menghadapi pertanyaan berikutnya. Dokter menyebut dua nama: Freorla dan Rinvoq. Keduanya berbentuk tablet. Keduanya termasuk JAK inhibitor. Keduanya digunakan untuk dermatitis atopik sedang hingga berat.

JAK Inhibitor atau Dupixent (dupilumab): Faktor Apa yang Dipertimbangkan Dokter?
Selasa, 09 Jun 2026

Ketika terapi topikal sudah tidak cukup, ada dua kelompok terapi sistemik yang paling sering masuk dalam diskusi: JAK inhibitor oral dan dupilumab (Dupixent). Keduanya efektif untuk dermatitis atopik sedang hingga berat, tetapi bekerja dengan cara yang berbeda dan cocok untuk profil pasien yang berbeda.

Freorla (abrocitinib) untuk Dermatitis Atopik: Apa yang Perlu Diketahui?
Selasa, 09 Jun 2026

Freorla adalah nama merek abrocitinib yang tersedia di Indonesia. Di banyak negara lain, molekul yang sama dipasarkan dengan nama Cibinqo. Ini adalah JAK inhibitor oral yang digunakan untuk dermatitis atopik sedang hingga berat ketika terapi topikal tidak lagi memberikan kontrol yang memadai.

Komplikasi Dermatitis Atopik yang Sering Diabaikan
Senin, 08 Jun 2026

Dermatitis atopik bukan hanya soal ruam dan gatal. Ketika tidak terkontrol dengan baik dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menyebabkan komplikasi yang berdampak jauh melampaui tampilan kulit.

Rinvoq (upadacitinib) untuk Dermatitis Atopik: Apa yang Perlu Diketahui?
Senin, 08 Jun 2026

Rinvoq bukan dipertimbangkan karena pasien ingin mencoba obat baru. Rinvoq dipertimbangkan ketika dermatitis atopik sedang hingga berat belum terkontrol dengan terapi yang sudah dijalani, dan diskusi tentang terapi sistemik oral menjadi relevan.